Sikapnews.com
ISRA’ MI’RAJ, PENGUATAN RELASI ISLAM DAN MEMPERKOKOH KEUTUHAN BANGSA
Oleh:
Aswan Nasution
Purna Bakti Kementrian Agama RI – Nusa Tenggara Barat
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda [kebesaran] Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. Al Israa’: 1].
BAGI umat Islam peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan kisah yang terus dikenang, sarat makna dan tentu dijadikan tonggak sejarah karena Nabi Muhammad SAW memperjuangkan nasib kaum supaya menjadi kaum yang lebih beradab.
Negara ini menjadikan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai hari libur nasional. Tentu saja ini merupakan sebuah penghargaan negara ini terhadap salah satu momentum tersebut bagaimana bangsa ini memaknai momentum Isra’ Mi’raj untuk kepentingan bangsa ini.
Lalu, apa makna peringatan itu untuk bangsa. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan satu istilah untuk menggambarkan dua kejadian penting.
Peristiwa ini menggambarkan perjalanan Nabi dalam satu malam yang melakukan perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis [Palestina] atau dikenal Isra’ yang disambung ke “Sidratul Muntaha” [satu tempat di atas langit ketujuh] yang dikenal dengan Mi’raj. Pada peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW mendapat perintah menunaikan shalat lima waktu sehari.
Sesungguhnya bangsa ini juga membutuhkan keimanan dan kepercayaan diri yang kuat untuk bangkit dan setara dengan bangsa lain sebagai negara yang berdaulat, mandiri dan sejahtera. Butuh kepercayaan seluruh komponen bangsa yang memiliki keimanan yang kuat untuk memperbaiki bangsa ini.
Isra’ Mi’raj merupakan momentum penting dimana Nabi SAW diberikan mandat shalat. Ibadah shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spritual individual, hubunganya dengan Allah. Tetapi shalat juga menjadi sarana menguatkan hubungan sosial.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam ayat sebagai berikut, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari [perbuatan-perbuatan] keji dan mungkar.” [QS. al-Ankabut: 45].
Isra’ Mi’raj mengajarkan bangsa ini untuk selalu naik tingkat memperbaiki diri. Menjadi bangsa yang kuat dan mandiri dalam berbagai aspek yang membutuhkan kepercayaan sebagaimana umat Islam mengimani peristiwa mukjizat, kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya, kepercayaan pemerintah terhadap warga negaranya dan kepercayaan masyarakat dengan masyarakat perlu ditumbuhkan untuk menjaga persatuan bangsa ini.
Cara bangsa ini meningkatkan diri adalah dengan memperkuat relasi spritual seorang hamba dengan Tuhan dan memperkuat relasi sosial antara manusia dengan sesamanya. Shalat mengajarkan bagaimana cara mendekatkan diri dengan Tuhan, tetapi mempunyai dimensi sosial menjaga kerukunan dan harmoni sosial.
Karena itulah, Isra’ Mi’raj bagi bangsa ini harus dimaknai sebagai momentum meningkat derajat dan martabat bangsa ini lebih tinggi melalui penguatan relasi spritual dan relasi sosial kemanusiaan. Isra’ Mi’raj berarti penguatan relasi Islam dan kebangsaan sebagai pondasi memperkokoh keutuhan bangsa ini.
Isra’ Mi’raj, juga berkaitan erat dengan aspek kebangsaan khususnya Pemilihan Umum [PEMILU] 2024 yang akan berlangsung pada 14 Pebruari 2024 ini, Pemilu kali ini tentu dilalui dengan perbedaan pilihan, harus berakhir dengan suasana kebatinan yang sejuk, damai, dan terbuka.
Sekali pun ada perbedaan pilihan dalam pemilu, tetapi sesudah pemilu mari kita rujuk kembali, Nabi SAW setelah Isra’ Mi’raj itu berhijrah. Jadi setelah pemilu nantinya kita hijrah ke dalam suasana batin yang lebih terbuka lagi.
Bukankah Islam melalui peristiwa Isra’ Mi’raj mengajarkan untuk menghilangkan egoisme individual dan memprioritaskan kepentingan umat atau bangsa. Wallahu A’lam Bish Shawab.
Referensi:
madrasahdigital.co/opini/sprit-isra-miraj.
lendah.kulonprogokab.go.id/detil/322/isra-miraj.






